Semarang, jateng.bps.go.id - Survei Pertanian Terintegrasi (SITASI) 2026 menjadi langkah krusial pemerintah untuk menyediakan data pertanian nasional yang akurat dan berkesinambungan. Berdasarkan rekomendasi Global Strategy (GSARS) dan FAO, SITASI diselenggarakan dalam siklus 10 tahunan yang mengombinasikan Modul KOR (data pokok tahunan) serta Modul ROTASI yang dikumpulkan berkala setiap 2–5 tahun sekali.
BPS Provinsi Jawa Tengah mengikuti pelatihan Instruktur Nasional SITASI yang dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Statistik Produksi, M. Habibullah, dalam sambutannya ditekankan bahwa bahwa mengingat maraknya isu perubahan iklim dan krisis pangan, keberhasilan sektor pertanian kini tidak lagi hanya diukur dari kuantitas hasil produksi semata, tetapi juga dari cara pengelolaan sumber daya, input, lahan, air, hingga limbah secara terintegrasi.
Pelatihan yang berlangsung secara daring ini dilaksanakan pada tanggal 28 September-1 Oktober 2026. Bertugas sebagai Instruktur Utama, Rina Lusiana Handayanti dan sejumlah 39 peserta dari BPS se-Jawa Tengah. Dalam pelatihan ini, diisi dengan penyampaian materi teknis, pembahasan instrumen pendataan, pengenalan dan praktik penggunaan aplikasi FASIH berbasis Computer-Assisted Personal Interviewing (CAPI).
Tujuan akhir dari integrasi Sensus Pertanian dan SITASI ini difokuskan pada pemenuhan Minimum Set of Core Data, penyediaan data bagi perencanaan kebijakan pemerintah dan penelitian, serta pemantauan pencapaian indikator Sustainable Development Goals (SDGs) Pertanian nasional. Data terpadu ini diharapkan mampu membantu pemerintah merumuskan strategi adaptasi iklim yang tepat guna menjaga ketahanan pangan masyarakat di masa depan.