Kinerja Neraca Perdagangan Jawa Tengah Menguat - Berita dan Siaran Pers - Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah

Sebagai upaya meningkatkan kualitas data dan pelayanan kami kepada Anda mohon mengisi Survei Kebutuhan Data (SKD) 2026 melalui tautan : https://skd.bps.go.id/skd/s/3300

Anda bisa menyampaikan pengaduan layanan kepada kami disini atau  mengakses Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR) disini

Layanan Online Data BPS silakan melalui e-mail : [email protected], Whatsapp (chat only) : 0815 6770 1212, dan silastik.bps.go.id

Beranda

Produk - Berita dan Siaran Pers

Kinerja Neraca Perdagangan Jawa Tengah Menguat

Kinerja Neraca Perdagangan Jawa Tengah Menguat

Kinerja Neraca Perdagangan Jawa Tengah Menguat

1 September 2025 | Kegiatan Statistik Lainnya


Berita Versi Audio

Semarang, 1 September 2025 – Neraca perdagangan Jawa Tengah kembali menunjukkan kinerja positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat neraca perdagangan barang nonmigas Jawa Tengah mengalami surplus US$1.865,50 juta sepanjang periode Januari hingga Juli 2025, atau naik US$303,09 juta dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, neraca perdagangan migas Jawa Tengah masih mengalami defisit sebesar US$2.919,32 juta. Tren defisit pada sektor ini semakin mengecil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Secara keseluruhan, nilai total ekspor sepanjang Januari-Juli 2025 tercatat US$7.027,53 juta, lebih rendah dibandingkan total impor yang mencapai US$8.081,34 juta. Nilai ekspor Januari-Juli 2025 naik 11,02 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar US$6.763,92 juta, atau naik 13,01 persen.


Kinerja positif sejumlah komoditas unggulan masih berlanjut sepanjang Januari-Juli 2025. Ekspor pakaian dan aksesorinya (rajutan) mencapai US$927,79 juta, naik 11,77 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor alas kaki naik 9,23 persen menjadi US$877,01 juta. Namun, tidak semua komoditas unggulan mencatat kinerja positif. Ekspor pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) mengalami penurunan sebesar 10,10 persen menjadi US$1.134,28 juta. ”Total ketiganya memberikan share sekitar 42,77% dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah pada Januari-Juli 2025”, jelas Endang.


Endang melanjutkan, ”Tiga besar negara tujuan ekspor Jawa Tengah adalah Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok. Share ketiga negara ini sekitar 59,85 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah pada Januari-Juli 2025”. Amerika Serikat tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Jawa Tengah dengan nilai mencapai US$3.270,18 juta (47,59 persen), disusul Jepang sebesar US$552,23 juta (8,04 persen) dan Tiongkok sebesar US$290,06 juta (4,22 persen). Ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan), pakaian dan aksesorinya (rajutan), serta alas kaki.


Dari sisi impor, nilai total impor Jawa Tengah pada Januari-Juli 2025 mencapai US$8.081,34 juta atau turun 8,33 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama nilai impor ini masih berasal dari sektor nonmigas yang mencapai US$5.005,77 juta, naik 10,41 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada sektor migas, impor mengalami penurunan sebesar 28,18 persen menjadi US$3.075,57 juta. Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor terjadi pada barang modal sedangkan barang konsumsi dan bahan baku/penolong mengalami penurunan. ”Nilai impor bahan baku/penolong, sebagai andil utama penurunan impor, mencapai US$6.815,18 juta atau turun 12,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu”, rinci Endang.


Sepanjang periode Januari-Juli 2025, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Jawa Tengah dengan nilai US$3.027,34 juta (60,48 persen), diikuti Amerika Serikat sebesar US$296,75 juta (5,93 persen), dan Vietnam sebesar US$213,99 juta (4,27 persen). Impor dari Tiongkok didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.


Surplus perdagangan nonmigas sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama yang merupakan komoditas unggulan ekspor Jawa Tengah. Komoditas tersebut adalah pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) (US$1.115,85 juta), pakaian dan aksesorinya (rajutan) (US$921,78 juta), alas kaki (US$830,80 juta), kayu dan barang dari kayu (US$575,16 juta), serta barang dari kulit samak (US$500,08 juta).


Dari sisi negara mitra, periode Januari-Juli 2025, Jawa Tengah mencatat surplus perdagangan nonmigas tertinggi dengan Amerika Serikat (US$2.973,43 juta), Jepang (US$478,19 juta), dan Belanda (US$219,25 juta). Komoditas penyumbang surplus terbesar dengan Amerika Serikat adalah pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan), pakaian dan aksesorisnya (rajutan), serta alas kaki.


Sebaliknya, masih pada periode Januari-Juli 2025, defisit terdalam perdagangan nonmigas tercatat dengan Tiongkok (US$2.737,28 juta), Hongkong (US$127,08 juta), dan Thailand (US$112,06 juta). Defisit terbesar dengan Tiongkok disumbang oleh mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, dan plastik dan barang dari plastik.


Jawa Tengah kembali mengalami deflasi pada bulan Agustus 2025


BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat terjadinya deflasi sebesar 0,10 persen pada bulan Agustus 2025 (m-to-m). ”Terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,67 pada Juli 2025 menjadi 108,56 pada Agustus 2025”, jelas Endang. Kondisi ini hampir serupa dengan Agustus 2024, dimana juga terjadi deflasi sebesar 0,07 persen. Secara tahunan, terjadi inflasi sebesar 2,48 persen, dan secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 1,39 persen.


Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,63 persen, dengan andil sebesar 0,19persen. Deflasi pada kelompok ini utamanya disebabkan oleh turunnya harga cabai rawit, tomat, telur ayam ras, dan bawang putih. Di sisi lain, kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,87 persen dan memberikan andil inflasi 0,06 persen disebabkan oleh kenaikan biaya pendidikan pada tahun ajaran baru, utamanya biaya akademi/perguruan tinggi.


Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 9 kabupaten/kota IHK di Jawa Tengah seluruhnya mengalami deflasi. Deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Rembang sebesar 0,20 persen, sedangkan deflasi terendah terjadi di Kota Tegal sebesar 0,02 persen.


Nilai Tukar Petani (NTP) naik


BPS Provinsi Jawa Tengah turut mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Agustus 2025 yang mencapai 116,35 atau naik 0,65 persen dibanding Juli 2025. Kenaikan NTP menunjukkan daya beli petani sedikit membaik. ”Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,55 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun sebesar 0,10 persen”, ujar Endang.


Kenaikan NTP tidak terjadi pada semua subsektor pertanian. Hanya subsektor tanaman pangan dan perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya yang mengalami kenaikan. Subsektor lainnya, yaitu hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, dan peternakan justru mengalami penurunan NTP.


Kunjungan wisatawan mancanegara secara kumulatif meningkat


Angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Tengah pada Juli 2025 tercatat hanya 11 kunjungan. Meskipun lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya, secara kumulatif pada Januari-Juli 2025, terjadi peningkatan jumlah kunjungan hingga 1.127,48 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. ”Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2025, total kunjungan wisman mencapai 3.216 kunjungan, atau meningkat sebelas kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2024”, ungkap Endang.


Indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis oleh BPS adalah jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), yang pada Juli 2025 tercatat mencapai 11,12 juta perjalanan, atau naik 8,41 persen dibandingkan Juli 2024. Dari angka jumlah perjalanan tersebut, 69,87 persen atau 7,77 juta perjalanan di antaranya merupakan perjalanan antarkabupaten atau kota di dalam provinsi (intra). Sedangkan jumlah perjalanan antarkabupaten atau kota antarprovinsi (inter) mencapai 3,35 juta perjalanan (30,13 persen).



Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel mengalami kenaikan


Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang dan nonbintang di Jawa Tengah pada Juli 2025 mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. TPK hotel bintang pada Juli 2025 tercatat sebesar 46,99 persen, meningkat 1,16 poin dari 45,83 persen pada Juni 2025. Sementara itu, TPK hotel nonbintang juga naik 0,23 poin, dari 23,92 persen pada Juni 2025 menjadi 24,15 persen pada Juli 2025.


Jumlah penumpang di sejumlah moda transportasi meningkat


BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat, pada Juli 2025 jumlah penumpang angkutan udara domestik yang berangkat mencapai 151,4 ribu orang, naik 14,21 persen dibandingkan Juni 2025. Sementara itu, jumlah keberangkatan penumpang angkutan udara internasional mencapai 1.275 orang, jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat tidak ada keberangkatan. Peningkatan keberangkatan penumpang juga terjadi pada moda angkutan laut domestik. Jumlah penumpang angkutan laut domestik mencapai 60,56 ribu orang, atau naik 72,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Narahubung Media

Subuh Sukmono Putro

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah

[email protected]

[email protected]

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah (BPS-Statistics Jawa Tengah Province)Jl.Pahlawan No. 6 Telp. 024 - 8412802

8412804

8412805 Fax. 024 - 8311195 e-mail : [email protected]

logo_footer

Government Public Relation

Sumber dari Kementerian Komunikasi dan Digital

Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik